CommVita

Informasi & Komunikasi Vita Agency

Personal Goal Setting

leave a comment »

Tulisan ini adalah rangkuman bebas dari beberapa artikel dan pengalaman untuk mengingatkan diri sendiri: membuat dan mempertanggungjawabkan goal setting serta memelihara semangatnya sendiri dalam keseharian hidup. Syukurlah apabila artikel ini bermanfaat pula bagi Anda.

Mobil sudah saya periksa keadaannya. Semua tampak beres. Surat-suratnya pun lengkap: STNK dan SIM masih lama jangka waktu berlakunya. Saya pun merasa sehat dan segar, siap untuk bepergian. Tujuan saya kali ini adalah Gunung Bromo, menyaksikan sun-set nanti sekaligus sun-rise keesokan harinya. Ini adalah perjalanan pertama saya ke sana sebagai pengemudi. Sudah lama saya tidak pergi bertamasya ke Gunung Bromo. Biasanya – bila ke sana – saya adalah peserta tur yang tak pernah sempat memerhatikan jalan karena asyik berbincang-bincang dengan teman-teman seperjalanan.

Ada beberapa jalan menuju Gunung Bromo. Meskipun belum pernah melewatinya, dengan yakin saya mengambil jalan melalui Nongkojajar yang saya pikir merupakan jalur terpendek ke Gunung Bromo dari kota tempat tinggal saya. Sayangnya, saya tak tahu bahwa jalur terpendek itu tidak cocok untuk saya lalui dengan jenis mobil yang saya kendarai. Jalan menanjak dengan tikungan-tikungan yang tajam sesudah pasar bukanlah medan yang sesuai untuk sedan berbadan besar, panjang, dan ber-‘kaki pendek’. Apalagi, ternyata saya pun lupa membawa peta!

Oleh sopir truk yang saya tanya, saya dianjurkan untuk kembali dan mengambil jalur yang sesuai. Maka saya pun turun. Beberapa liter bensin sudah terbuang percuma. Kegembiraan saat berangkat pun sudah luntur karena energi saya terkuras oleh konsentrasi agar dapat kembali dengan selamat ke jalan provinsi. Kalau saya teruskan, saya pasti akan kehilangan kesempatan menyaksikan sun-set!

Peta

Sangat banyak di antara kita menganggap tujuan hidup kita dengan cara yang serupa. Kita sering bermimpi pergi ke suatu tempat, tetapi tidak memiliki peta untuk mencapai tempat itu dengan selamat. Apakah peta itu sebenarnya? Pada hakikatnya: kata yang tertulis dan atau tergambarkan secara jelas. Apakah perbedaan antara mimpi dan tujuan? Gene Donohue mengatakan: “The difference between a goal and a dream is the written word.” Perbedaan di antara keduanya adalah: kata yang tertulis.

Lalu, apa yang dimaksud dengan goal setting (perencanaan tujuan)?  Sesungguhnya goal setting adalah metode untuk menentukan tujuan hidup kita di dunia, apa yang kita dambakan untuk menyatakan keberadaan kita. Goal setting membantu kita memisahkan hal penting dari hal-hal yang kurang penting, tidak relevan, maupun yang justru menjerumuskan kita ke dalam kegagalan mengisi dan membuat hidup kita semakin berarti dari hari ke hari. Tak kalah penting, goal-setting memotivasi dan meningkatkan rasa percaya diri kita berdasarkan serangkaian keberhasilan terencana yang telah kita peroleh dan kita tingkatkan kualitasnya secara terus menerus.

Bagaimana menentukan tujuan hidup kita? Berikut adalah tahapan metode goal setting:

  1. Pastikan bahwa tujuan Anda bekerja adalah untuk sesuatu yang benar-benar Anda inginkan, bukan sekadar sesuatu yang terdengar bagus. Menjadi Presiden RI, misalnya, adalah suatu keinginan yang mulia dan patut diperjuangkan oleh para ketua umum partai politik. Tetapi bagi seorang seperti saya, amatlah mustahil menginginkan hal itu!
  2. Suatu tujuan semestinya tidak bertentangan dengan tujuan yang lain. Misalnya, Anda tidak dapat membeli rumah seharga Rp 500.000.000,- jika penghasilan pertahun Anda tak lebih dari sepersepuluh persennya. Tujuan yang tak terpadu dengan tujuan lain atau keadaan yang tak terelakkan justru akan menghambat upaya pencapaian tujuan yang sesungguhnya.
  3. Tentukanlah goal dalam bidang-bidang kehidupan kita: Keluarga dan Rumah, Spiritual dan Etika, Sosio-kultural, Finansial dan Karir, Fisik dan Kesehatan, Mental dan Pendidikan (termasuk agama). Menetapkan tujuan dalam setiap bidang kehidupan akan menjamin hidup yang lebih seimbang karena Anda mulai memeriksa dan mengubah dasar hidup sehari-hari. Menetapkan tujuan dalam setiap bidang kehidupan juga membantu dalam menghilangkan kontradiksi yang mungkin terjadi sebagaimana dimaksudkan dalam langkah 2. Semua bidang kehidupan yang kita jalani menuntut penentuan dan perencanaan tujuan masing-masing. Apa saja yang kita inginkan untuk keluarga dan atau rumah tangga kita; bagaimana kehidupan spiritual dan dan etika kita dalam menghadapi berbagai tantangan zaman; bagaimana peran kita dalam pergaulan bermasyarakat; bagaimana keuangan, penghasilan dan karir kita; bagaimana kita inginkan penampilan fisik dan pemeliharaan kesehatan serta kebugaran kita; bagaimana kita memelihara mental kita dengan tak pernah berhenti belajar untuk mengaktualisasikan kehidupan kita; semuanya menuntut kita untuk menentukan sasaran yang kita inginkan agar kita tidak mandek, atau bahkan mundur, melainkan terus menjadi semakin manusiawi.
  4. Tulislah aneka goals dalam berbagai bidang kehidupan Anda itu dalam kalimat-kalimat positif, bukan negatif. Tujuan Anda bekerja adalah untuk mencapai keinginan Anda, bukan yang tidak Anda inginkan maupun yang sedang Anda upayakan untuk Anda tinggalkan. Tujuan menuliskan goals itu ialah untuk memberikan serangkaian perintah ke pikiran bawah sadar kita untuk melaksanakannya. Pikiran bawah sadar Anda adalah instrumen yang sangat efisien, tidak pernah menghakimi Anda. Semakin positif petunjuk yang Anda berikan, semakin positif pula hasil yang akan Anda dapatkan. Kita bekerja untuk meraih sukses yang kita harapkan, bukan untuk menghindari kendala yang mau tak mau harus kita hadapi. “Be positive and creative!”. Konon, alam bawah sadar kita akan lebih mudah menerima dan melaksanakan instruksi positif dan sebaliknya akan bekerja lebih keras dan tidak bebas ketika menerima instruksi negatif. Jangan batasi kebebasan kita sendiri dengan selalu memikirkan hal-hal negatif pada diri sendiri maupun orang lain!
  5. Tulislah setiap goal kita itu selengkap dan serinci mungkin. Alih-alih menuliskan “Punya rumah baru”, tulislah “Memiliki rumah di atas tanah minimal seluas 1.000 m2 dengan lima kamar tidur dan tiga kamar mandi, berpemandangan gunung di bagian belakang dan jalan raya di depan, di kota Malang, selambat-lambatnya tahun 2012”. Rincian itu memberi pikiran bawah sadar kita serangkaian perintah untuk dilaksanakan. Semakin banyak informasi yang Anda berikan, semakin jelas hasil akhir yang Anda inginkan dan Anda perjuangkan pencapaiannya. Anda bisa mencatat, misalnya: “Halaman belakang cukup luas untuk menanam pohon buah-buahan dan aneka tanaman hias serta bunga favoritku., tempat anak-anak bermain dengan aman dan nyaman.” Demikianlah, semakin tepat Anda lukiskan, pikiran bawah sadar Anda akan dibimbing untuk selalu memvisualisasikan rumah idaman Anda itu, bahkan dengan mata tertutup.
  6. Dalam arti mana pun, tempatkan goals itu pada ketinggian yang cukup wajar. Inginkanlah menggapai bulan, sehingga jika tak dapat meraihnya, Anda masih bisa menggenggam bintang-bintang.
  7. Ini adalah yang paling penting: Tulislah goals itu, jangan omdo, nato dan hanya menjadikannya angan-angan di awang-awang! Menuliskan tujuan Anda seolah membuat peta jalan yang jelas untuk meraih keberhasilan Anda. Semakin besar perhatian yang Anda arahkan pada tujuan-tujuan Anda, semakin besar pula kemungkinan Anda untuk mencapai tujuan-tujuan itu. Menuliskan semuanya sekaligus memudahkan Anda untuk merevisi tujuan-tujuan Anda. Janganlah ragu mengubahnya, namun bukan karena bayangan kegagalan pencapaiannya melainkan karena Anda telah mempertimbangkan hasil yang lebih besar dan atau wawasan yang lebih luas untuk mewujudkan sesuatu yang berbeda.

Tujuan sudah tertulis. Lalu?

Tanyakanlah kepada diri sendiri:

  • Apakah goals itu sudah tertulis dengan kalimat positif? Ingat bahwa positive-thinking akan membawa kita kepada sikap positif dalam mencapai keberhasilan maupun tersandung kegagalan.
  • Apakah goals itu sudah tertulis secara lengkap dan rinci? Tak perlu panjang lebar. Satu kalimat yang lengkap saja sudah cukup. Gunanya adalah untuk memudahkan kita sendiri dalam mengingat tujuan kita berikut rincian yang harus kita perjuangkan dalam keseharian hidup dan pekerjaan kita.
  • Apakah goals itu sudah tertulis sesuai dengan skala prioritas kita? Jika kita memiliki banyak goals, maka penyusunannya sesuai skala prioritas membantu kita untuk semakin fokus pada tujuan utama dan tidak mudah berhenti ketika sejumlah goals lainnya sudah kita capai.
  • Apakah goals itu realistik dan operasional, sesuatu yang kita bisa capai atau tak lebih dari sekadar mimpi di siang bolong? Goals yang terlalu banyak menyulitkan kita sendiri apabila tidak tersusun sesuai skala prioritas yang kita tentukan terlebih dulu. Meskipun kerja keras kita tidak sia-sia, kita akan sangat mudah dijangkiti perasaan bosan bahkan putus asa jika goals kita terasa tiada habis-habisnya menguras semua daya kita. Goals yang tidak realistik sangat sulit kita laksanakan. Beda antara mimpi dan goals hanyalah penulisan kata-katanya. Artinya, goals adalah mimpi yang kita tulis sebagai agenda keseharian untuk diraih, bukan diabaikan. Mimpi bisa kita ceritakan dan kemudian lupakan, sedangkan menceritakan goals kepada siapa pun dan tidak menuliskannya sebagai sarana mengingatkan diri sendiri (karena lupa adalah penyakit manusiawi) justru bisa merugikan kita.
  • Apakah goals itu benar-benar dapat menunjukkan seluruh aspek kinerja yang akan kita perjuangankan pencapaiannya dan bukan hasil kerja kita belaka? Kinerja yang baik diharapkan dapat memberikan hasil yang baik pula. Tetapi berfokus pada hasil kerja saja dengan mudah akan menjadikan kita bekerja hanya demi hasil dan mengabaikan proses yang baik untuk mencapainya. Cepat atau lambat, kebiasaan berfokus kepada hasil belaka tidak mendewasakan kita dan dapat menjadi bumerang yang sangat merugikan.

TULISLAH KEMBALI GOALS KITA BILA ADA PERBAIKAN

Jangan ragu merevisi dan menulis kembali goals kita sebelum mulai melaksanakannya dengan sepenuh hati karena merasa mantap telah berada di jalur yang benar. Kemudian …

  • Apabila kita berhasil mencapai goal itu, rayakanlah! Berilah diri kita sendiri hadiah yang pantas! Hal ini akan menambah rasa percaya diri kita untuk merancang goal-setting selanjutnya.
  • Apabila goal itu terasa terlalu mudah kita raih, janganlah ragu untuk membuat goal berikutnya lebih menantang semangat kita. Sebaliknya, jika goal itu terlalu lama pencapaiannya, buatlah agar sedikit lebih mudah kita capai.
  • Apabila kita mempelajari sesuatu yang mengubah paradigma kita, janganlah ragu menyesuaikan goal-setting kita dengan pengetahuan, semangat dan rasa percaya diri kita yang telah diperbarui!
  • Apabila kita menyadari adanya suatu kelemahan kita sendiri untuk mencapai goal kita, sesuaikanlah goal itu dengan sikap toleran yang positif terhadap kelemahan kita atau sedapat mungkin perbaikilah diri kita agar bisa kembali bersemangat untuk mencapai goal itu.

Kegagalan kita dalam mencapai goal bukanlah pertanda dunia akan kiamat. Orang-orang bijak mengatakan bahwa “Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda.” Kita benar-benar gagal apabila kegagalan tidak mengajarkan sesuatu pun bagi kita.

Catatan Penutup

Kecuali jika seseorang berperan sangat penting untuk membantu Anda mencapai tujuan Anda, sebaiknya Anda tidak terlalu mudah mengatakan tujuan-tujuan Anda kepada setiap orang. Sikap negatif dari teman, keluarga dan tetangga Anda dapat memerosotkan semangat Anda dengan sangat cepat. Berbicaralah dengan pribadi Anda sendiri.

Meninjau tujuan Anda sehari-hari adalah bagian penting dari keberhasilan Anda dan seharusnya menjadi bagian dari rutinitas hidup Anda. Setiap bangun pagi, ketika membaca daftar tujuan yang tertulis dengan kalimat positif, Anda akan memvisualisasikan tujuan akhir: rumah baru, bau kulit di dalam kabin mobil baru, merasakan gesekan jemari  Anda dengan uang tunai milik Anda sendiri, etc. Kemudian setiap malam, tepat sebelum Anda pergi ke tempat tidur, proses serupa akan terulang. Proses ini akan terus berlangsung baik dalam kendali kesadaran Anda maupun dalam pikiran bawah sadar Anda menuju ke arah tujuan. Mereka yang terbiasa melakukannya mengalami bahwa self-talk yang semula bersifat negatif lambat laun menjadi self-talk positif.

Setiap kali membuat keputusan, tanyakanlah pada diri Anda hal ini: “Apakah aku akan lebih dekat, atau lebih jauh dari tujuan?” Jika jawabannya adalah “mendekat”, maka Anda telah membuat keputusan yang tepat. Jika jawabannya adalah “menjauh”, Anda tahu apa yang harus Anda lakukan. Mengikuti proses ini dalam keseharian hidup akan menempatkan Anda di jalan yang mengarah ke tujuan, yakni keberhasilan yang tak terbatas dalam setiap aspek kehidupan Anda.

Semoga bermanfaat!

Sumber

Written by commvita

20 Januari 2010 pada 09:46

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: