CommVita

Informasi & Komunikasi Vita Agency

Perencanaan Keuangan

with one comment

Krisis moneter mondial semakin mudah terjadi dalam era kesemrawutan global. Bahkan negara-negara adidaya pun kelabakan menghadapinya. Kebijakan yang semula diagung-agungkan bisa saja tiba-tiba dicemooh sebagai penyebab krisis yang berdampak luas. Laju inflasi sering tak terbendung bahkan oleh para ekonom yang paling jempolan di seluruh dunia. Persaingan terpapar apalagi tersamar membuat semua terkena hantaman krisis global hingga menggelepar. Di kalangan masyarakat, baik yang sudah punya perencanaan keuangan yang bagus dan diamalkan dengan baik dan benar maupun dan terlebih-lebih yang memikirkannya pun belum pernah, mengeluh. “Semakin tua, dunia tak semakin bijaksana.”
Tak sedikit yang berpandangan negatif. “Buat apa perencanaan keuangan? Harta saya takkan habis untuk tujuh turunan!” atau “Buat apa merencanakan keuangan jika pada saat krisis begini saya tetap terkena dampaknya?” atau “Penghasilan saya pas-pasan. Apa perlunya perencanaan?”

Tapi mungkin juga ada yang berpikir positif: “Untunglah saya sudah mengantisipasi segala kemungkinan terburuk itu dengan sebuah perencanaan keuangan yang bisa saya laksanakan secara disiplin dengan komitmen meraih masa depan yang lebih baik!” Yang terakhir ini mungkin sudah menyadari bahwa investasi adalah menunda kenikmatan sekarang untuk memperoleh imbal hasil yang lebih besar di masa mendatang dengan paradigma baru tentang pentingnya perencanaan keuangan: This is not about how much money you earn, but how much money you can save.

Perencanaan keuangan sesungguhnya bukan hanya kewajiban orang kaya untuk mempertahankan dan mengembangkan kekayaannya, tetapi juga bagi kelas menengah ke bawah guna meminimalisasi kegamangan dalam menghadapi masa depan yang semakin unpredictable. Dengan perencanaan, kita menyiapkan diri terhadap berbagai kemungkinan dan menjadi lebih bertanggung jawab terhadap anugerah kehidupan.

Langkah I

Menentukan tujuan berdasarkan skala prioritas (sekolah, pensiun, membeli rumah, dll.)

Sekolah
Mengapa dana pendidikan harus dipersiapkan? Tak dimungkiri, kendati pemerintah sudah berusaha menaikkan anggaran pendidikan menjadi 20% sebagaimana diperintahkan konstitusi, ternyata biaya pendidikan tak pernah turun apalagi benar-benar gratis. Semakin banyak orangtua yang menyekolahkan anaknya ke luar negeri, terutama ke negara-negara yang pemerintahnya memberikan subsidi hingga mencapai gratis atau hampir gratis. Kendati pembandingan biaya pendidikan dalam negeri dan luar negeri itu riskan menimbulkan polemik antara berbagai harapan dan kenyataan, pukul rata kenaikan biaya pendidikan dalam negeri adalah sekitar 10% setiap tahun.
Lowongan pekerjaan rata-rata meminta lulusan D3. Lulusan S1 dalam negeri bisa mengharapkan penghasilan sekitar 50% – 75% lebih tinggi daripada lulusan D3, sedangkan lulusan S2 berharap bisa ‘dihargai’ sekitar 75% – 100% lebih tinggi dibandingkan lulusan S1. Bagaimana dengan lulusan luar negeri? Sebagaimana kita alami, segala yang berasal dari luar negeri pada umumnya dianggap lebih daripada ‘produk’ dalam negeri.

Pensiun
Dana Pensiun perlu dipersiapkan karena biaya hidup juga semakin meningkat, usia harapan hidup pun bertambah meskipun sekaligus dihadapkan pada rentannya usia tua terhadap sakit dan aneka penyakit lama maupun baru. Mahalnya biaya perawatan kesehatan sempat melahirkan peribahasa “Orang miskin dilarang sakit!” Semakin banyak pula orangtua zaman sekarang yang tak ingin menyusahkan orang lain, termasuk keturunan mereka (yang sedang berjuang menata kehidupan keluarganya sendiri) – atau karena hal lain yang lebih positif – mereka ingin menikmati masa tua secara lebih menyenangkan.

Membeli rumah dll.
Berapakah harga rumah atau apartemen yang dekat dengan tempat kerja? Terjangkaukah harganya oleh sebagian besar dari kita? Bagaimana caranya agar bisa memiliki rumah idaman? Biaya pesta pernikahan – apalagi yang mengikuti selera zaman dan iming-iming citra pesta pernikahan para artis dan atau selebritis yang diidolakan – juga semakin mahal. Ibaratnya, bujangan zaman sekarang takut menikah bila hanya punya selembar tikar dan sebuah periuk.
Banyak lagi hal idaman yang bagi sebagian besar orang perlu perencanaan matang untuk bisa meraihnya dalam genggaman.

Langkah II

Menganalisis alur dana (cash flow)
Seberapa besar pemasukan dan pengeluaran rutin setiap bulan? Analisis alur dana perlu dilakukan untuk mengetahui apakah kondisinya positif, negatif atau balance. Dengan demikian kita akan mengerti permasalahan keuangan kita dalam gambaran yang jelas guna mencari alternatif pemecahannya.
Cash flow terdiri dari:

  • Pendapatan (income): Upah, Gaji, Fee, Komisi, Bonus, Tips, Penghasilan Pensiun, Bunga, Penghasilan dari Sewa, Dividen, dll.
  • Pengeluaran (expenses): Pengeluaran Tetap/ Pengeluaran Rutin dan Pengeluaran tidak tetap
  • Pendapatan – Pengeluaran = Positif, Negatif atau Balance

Idealnya harus positif; apabila negatif, yang harus dilakukan adalah adjustment, antara lain dengan cara mengurangi / menekan pengeluaran atau apabila tidak ingin mengurangi standar hidup, maka harus:

  • Bekerja tambahan (mengajar, menulis, dll.)
  • Mengusahakan bisnis sampingan (warteg, wartel, warnet, dll.)

Langkah III

Membuat Balanced Sheet/ Neraca
Kekayaan/ Aset

  • Aset Lancar terdiri dari: Rekening Tabungan, Rekening Koran (Giro / Cheque), Deposito Berjangka, Nilai Tunai Asuransi
  • Aset Investasi terdiri dari: Saham/ Kepemilikan Perusahaan, Reksadana, Komoditi, Logam Berharga, Asuransi Jiwa Unit-Link, Derivatif, Properti untuk investasi (Rumah kontrak, ruko, kios, dll., Jamsostek/ Dana Pensiun
  • Aset yang dipergunakan/ dipakai terdiri dari: Rumah tinggal, Furniture (isi rumah), Kendaraan, Barang koleksi/ antik, Perhiasan

Kewajiban (Liabilities):

  • Kewajiban Jangka Pendek: Kewajiban / utang yang jatuh tempo dalam waktu 12 bulan, Hutang Kartu Kredit, Hutang Pajak
  • Kewajiban Jangka Panjang: Kewajiban / hutang yang jatuh tempo lebih dari 12 bulan, Hutang Rumah, Mobil, Usaha, Kredit Rekening Koran, Kredit Usaha, Hutang Multiguna, Kredit Tanpa Agunan, Hutang Kartu Kredit

Langkah IV

Pembentukan Dana Darurat
Dana Darurat adalah dana yang dialokasikan terpisah untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya darurat, misalnya: biaya rumah sakit, kecelakaan di jalan atau tempat kerja, terjadinya pemutusan hubungan kerja (phk), biaya kematian, dll.
Seberapa besar kebutuhan Dana Darurat? Seorang yang belum menikah (tidak punya tanggungan) memerlukan Dana Darurat sejumlah dua kali kebutuhan perbulan. Artinya, ia harus memiliki dana yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya selama dua bulan. Sedangkan seorang kepala keluarga dengan dua anak membutuhkan enam kali kebutuhan perbulan dan bila anaknya tiga atau lebih, Dana Darurat yang diperlukan adalah sekitar sembilan sampai dengan 12 kali kebutuhan perbulan.
Di manakah sebaiknya Dana Darurat itu sebaiknya ditabung? Kriterianya adalah: kemudahan akses, kecepatan pengambilan dan keamanannya. Tak kalah penting dari kriteria itu adalah pertimbangan tentang hasil yang kompetitif pada macam-macam pilihan investasi/ tabungan. Dalam hal ini dianjurkan untuk tidak berinvestasi jangka panjang bila belum memiliki Dana Darurat.

Langkah V

Lunasi tunggakan Kartu Kredit
Sesungguhnya, kartu kredit diperlukan oleh orang yang punya uang dan ingin agar pembayaran aneka transaksi yang dilakukannya dapat dipermudah. Pemanfaatan kartu kredit untuk bisa berutang sebanyak-banyaknya adalah salah kaprah. Sangat tidak masuk akal jika investasi kita hanya menghasilkan keuntungan 10% – 15% sementara bunga kredit sebesar 26% – 29% pertahun.

Langkah VI

Asuransi
Asuransi mengalihkan risiko ekonomi Tertanggung kepada perusahaan asuransi jiwa akibat kehilangan nyawa, cacat tetap total atau sebagian atau sakit. Orang yang cerdik menyadari bahwa perencanaan keuangan pun kurang bermanfaat tanpa asuransi. Dengan memiliki polis asuransi jiwa yang sesuai, kebutuhan jangka pendek-menengah-panjang dapat lebih terjamin. Polis asuransi jiwa tidak dibeli oleh orang karena ia tahu ia akan mati, tetapi karena orang-orang terkasih yang ditinggalkannya harus tetap hidup layak. Memilih perusahaan asuransi pun memerlukan ketelitian. Pada umumnya disarankan untuk mencari tahu tentang reputasi perusahaan itu di bidang: kekuatan keuangan (RBC – Risk Based Capital, misalnya, jangan pilih perusahaan yang RBC-nya kurang dari 120%), pelayanan (service), dan siapa pemilik serta pengelolanya.
Semoga bermanfaat!

Sumber

Written by commvita

17 Januari 2010 pada 12:48

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. TERIMAKASIH INFORMASI DAN TULISANNYA. KUNJUNGI JUGA SEMUA TENTANG PAKPAK DI GETA_PAKPAK.COM http://boeangsaoet.wordpress.com

    SAUT BOANGMANALU

    17 Januari 2010 at 16:25


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: